25 Januari 2017

Aku Tidak Cantik

Hai. Sekali lagi ku perkenalkan diriku. Namaku Dianti. Aku gadis yang bisa dibilang gadis sederhana. Sangat sederhana. Aku terlahir didunia dari rahim ibu atas karunia yang Dia berikan. Aku mensyukurinya. Aku dilahirkan secara utuh tanpa cacat sedikitpun. Meskipun aku tidak cantik. Hahaha. Begini begini. Sebagian wanita terlahir cantik, sementara sisanya mengagumkan. Bila benar begitu mungkin aku adalah tipe yang kedua. Aku tidak terlahir dengan paras ayu. Namun aku percaya, cinta dan nyaman tidak mengenal paras. Dan aku yakin setiap hal diciptakan dengan kelebihan untuk menutupi kekurangannya masing-masing.

Sayang, mungkin nanti kau tertarik padaku bukan dari fisikku. Mungkin dari keberanianku, tulisan-tulisan absurdku, suaraku, lukisanku atau mungkin juga kebaikan hatiku. Mungkin. Tapi kupastikan, segala sesuatu yang ada di dalam diriku akan melengkapimu. Bukan hanya sekedar ketulusan, ada sesuatu yang tak kau temukan di diri orang lain.
Ku akui kecantikan memang poin penting bagi seorang wanita. Suatu kebanggaan bukan memiliki seorang pasangan yang cantik. Dan kau tidak akan temukan itu pada diriku. Tapi tenanglah, kubuktikan padamu betapa aku bisa lebih dari sekedar cantik. Sampai akhirnya kau rengkuh aku dalam pelukmu kemudian berkata 'aku bangga memilikimu'.

Terkadang aku sering merasa iri, kenapa Tuhan tak menciptakanku seperti mereka. Karena mereka yang cantik banyak disanjung, banyak dicintai, banyak dibanggakan. Sementara aku, selalu dinomor duakan, bahkan seringkali hanya sebagai bayangan saja. Maka mungkin kau akan sedikit kesulitan menemukanku di hamparan lautan manusia nantinya.
Sayang, untuk membahagiakanku kau tak perlu membeli perhiasan mahal, membawaku ke salon kecantikan atau membelikanku baju-baju bermerk agar aku lebih terlihat cantik. Pada sadarnya aku sudah seperti ini dan aku lebih suka hal sederhana. Aku si wanita tidak cantik lebih suka diajak menghabiskan waktu bersama di dalam sebuah toko buku yang berjejer rapi atau sebuah cafe yang sepi ditemani minuman yang aku pesan bersamamu. Mungkin kamu tidak akan suka. Tapi, inilah kenyamanan yang aku dapat. Dan semoga kamu merasakan kenyamanan yang sama, karena ada aku disampingmu.

Nanti bila kau diciptakan untuk menua bersamaku, kumohon jangan berkecil hati. Tuhan tidak menciptakanku untuk membuatmu kecewa, tapi berbahagia. Ku usahakan bagaimanapun caranya. Mungkin aku tidak indah, tapi lihatlah sekali lagi saja, mungkin yang kau cari selama ini ada di dalam diriku.

Dari seorang wanita yang tidak cantik.
Untuk seorang pria yang tak pernah berkurang rupawan wajahnya.
Salam, aku mencintaimu :)

-DH-

17 Januari 2017

Karena yang Terpenting itu Etika

Hai readers, udah lama gak pernah ngeblog lagi ya. Ngeblognya cuman pas bener-bener nganggur doang. Gapapa lah, mengisi kekosongan yakan. Hehe. Oh iya, aku ngeblog juga karena kemaren Ayahku ulangtahun yang ke-….. (sengaja gak diisi, tau lah apa alasannya wkwk). Isinya bukan tentang ulang tahun ayahku yang aku tulis ya, tapi disini aku wajib memberikan apresiasi yang luar biasa untuk beliau, karena selama ini, selama aku dan beliau hidup bersama, beliau telah mendidik aku menjadi anak yang mandiri, tau aturan meskipun sesekali melanggar dan bahkan alhamdulillah aku tau etika yang baik dalam lingkungan sosialku. Dari kecil, aku sudah dididik dengan tegas dan keras, menjadi anak yang tahan banting agar sewaktu aku tumbuh dewasa aku menjadi gadis yang tidak manja! Semua pasti perlu proses. Proses yang sangat menyakitkan menurutku, karena sewaktu aku kecil, aku sudah mendapat banyak luka fisik yang diakibatkan oleh kenakalanku sendiri. Ini bukan kekerasan anak, aku tahu dan sangat paham bahwa itu suatu tindak ketegasan agar aku tidak mengulangi sebuah kesalahan yang sama. Agar aku menjadi anak perempuan yang sesuai dengan adab dilingkungannya. Dan aku sangat bersyukur pernah mengalami pengalaman itu. Karena, aku sekarang tumbuh menjadi gadis yang stabil dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkunganku sendiri. Aku menjadi gadis yang tidak manja, aku menjadi gadis yang paham dengan etika, aku menjadi gadis yang tidak cengeng, meskipun aku mempunyai hati yang sangat sensitive di beberapa situasi. Aku sangat bangga dengan diriku, terlebih aku sangat bangga dengan ayah dan ibuku, karena telah mendidikku menjadi anak yang ya… aku sendiri tidak mau terlalu berlebihan menyebut diriku. Biarkan orang lain yang menilaiku. 


Disisi lain, aku harap orang tua diluar sana tahu mana yang baik untuk kehidupan anaknya, tahu mana hal yang harus ditanam pada diri anak sedari kecil, agar menjadi anak yang baik untuk lingkungannya. Bukan berarti aku menyuruh para orang tua harus seperti orang tuaku, tidak sama sekali. Aku hanya ingin mengingatkan saja, bahwa anak-anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika, tata krama dan sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh, disenangi dan disegani banyak orang.
Mereka tau aturan makan table manner di restoran mewah.
Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima.

Mereka sanggup beli barang barang mewah.
Tapi tau mana yang keinginan dan kebutuhan.

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota.
Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan.
Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan.

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja.
Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah.

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya.
Tapi juga tidak merendahkan orang yang lebih (maaf) miskin darinya.

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi.
Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas dan kapasitas dirinya, bukan dari barang yang dikenakan.

Mereka punya. Tapi tidak teriak kemana-mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain respect dengan dirinya. Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika, dan tata krama. Hal-hal sederhana tentang kesantunan seperti: pamit sewaktu pergi dari rumah, permisi saat masuk ke rumah teman (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang-orang yg ada di rumah itu), mengembalikan pinjeman uang sekecil apapun, berani minta maaf saat melakukan kesalahan dan tau terima kasih jika telah dibantu sekecil apapun. Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu (maaf) enekkin banget. Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup. Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika, tata krama dan kesederhanaan. Karena ini jauh lebih mahal daripada sekedar uang.

Sumber: Kompasiana 

-DH-

19 Agustus 2016

Mengapa Perlu Basa-Basi?

Hallo readers, apa kabar? Diantih udah jarang ngeblog ya hehe. Terakhir ngeblog ya sekitar 1 bulan yang lalu. Kenapa kok jarang ngeblog ya? Alasannya banyak. Yang pertama, saya sibuk bolak-balik ke sekolah buat ngurus ijazah dan semacamnya. Kedua, saya sibuk menghabiskan waktu bersama teman-teman saya, karena mereka sudah mau pindah keluar kota buat jadi anak rantau. Ini momen paling sedih sih hahaha. Ketiga, saya sibuk prepare buat ospek selama 1 minggu. Dan akhirnyaaa, saya berusaha untuk menulis kembali. Legaaaa. Duh kok saya malah jadi basa-basi gini ya? Mungkin dari kalian ada yang tidak suka saya basa-basi, ya? Padahal, basa-basi itu tidak seperti apa yang kalian pikirkan loh. Basa-basi ya? Saya suka basa-basi loh. (Ya terus kenapa? Apa hubungannya dengan saya?) ini permasalahannya!


Banyak orang mengatakan bahwa salah satu factor Indonesia lamban dan tidak segera menjadi negara maju diakibatkan adanya budaya “basa-basi” yang kental dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Banyak orang yang membandingkan budaya basa-basi ini dengan budaya barat yang katanya lansung “to the point”, tidak banyak basa-basi, dan tidak banyak bunga-bunga kata. Sesungguhnya ini persepsi yang keliru (menurut saya), karena didalam budaya bangsa mana pun “basa-basi” ini sangat diperlukan sebagai perekat sosial masyarakat. Hanya bentuk dan cara pengungkapannya tentu berlainan, yang lantas memberikan kesan seakan-akan ada bangsa tidak mengenal basa-basi ini. Maka kali ini, saya akan mencoba membahas beberapa situasi basa-basi yang ada di masyarakat Indonesia berdasarkan kehidupan yang saya alami *eseh 

Pernahkah kalian bertemu orang di jalan, lalu menyapa dengan “mau kemana?” atau “Dari mana?”. Ataukah pernahkah kalian melakukan “chatting” dengan menggunakan kata pembuka, seperti “Assalamualaikum” atau “apa kabar?”. Bagi sebagian orang hal itu mungkin tidak penting dan hanya sekedar angin lalu, tetapi bagi saya itu adalah sebuah bentuk keakraban dan keramah-ramahan.


 Pernahkah kalian mencoba makanan, sedangkan rasanya ‘mohon maaf’, tidak enak dan sangat hambar, lalu disisi lain sang pembuat masakan bertanya bagaimana rasanya. Lalu kalian menjawab “enak kok, cuma kurang garam aja sedikit” atau “lumayan enak kok, kalau belajar lagi pasti lebih enak”. Bagi orang yang mempunya pandangan berbeda dengan saya, jawaban seperti itu termasuk berbohong dan munafik. Namun menurut saya, itu adalah suatu bentuk penghargaan sata usaha yang telah dilakukan oleh sang pembuat masakan dan juga menjaga perasaan  orang tersebut.



Pernahkah kalian ditawarkan makanan/sesuatu, lalu menjawab “makasih ya, harusnya gak usah repot-repot” atau “makasih, tapi saya sudah kenyang”. Bagi sebagian orang ini termasuk perilaku tidak jujur, dan ya memang benar sih. Tetapi bagi saya, ini salah satu bentuk ewuh (sungkan/malu/gengsi) yang selalu dijunjung masyarakat Indonesia, khususnya Jawa seperti saya. 

Pernahkah kalian sadang makan, lalu ada orang yang anda kenal berjalan didepan kalian, dan kalian mengatakan “mari makan dulu, Mas” atau “mampir Mas, makan dulu ya”. Menurut orang yang berpikiran rasional, pernytaaan seperti itu adlaah basa-basi belaka. Kenapa? Karena ‘yang diajak’ pasti menjawab “makasih, tidak usah, Mas” dan ‘sang pengajak’ sudah pasti tahu tawarannya akan ditolak, kan? Bagi saya, pernyataan tersebut adalah bentuk bahwa kita peduli terhadap sekitar, punya rasa sosial yang tinggi dan memiliki sifat ramah tamah kepada sesama. 

Pernahkah kalian merasa disakiti baik secara verbal maupun fisik, hak-hak kalian diambil,dan sebagainya. Lalu kalian hanya tersenyum, menerima apa adanya dan kalaupun  membalas hanya untuk membela diri secukupnya saja? Bagi sebagian orang, itu merupakan tindakan bodoh dan pelecehan terhadap akal, pikiran perasaan sebagai manusia. Namun bagi saya, keselarasan, keserasian, dan keharmonisan adalah yang paling utama. Jadi, apapun yang terjadi konflik harus diredam, walaupun harus mengorbankan diri dengan sakit hati yang dipendam.

Dan masih banyak lagi contoh budaya basa-basi, dan ewuh pakewuh yang ada di kehidupan kita sehari-hari. Dari beberapa contoh diatas, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ada beberapa keutungan dari budaya yang dianggap ‘tidak penting’ ini, sebagai berikut:
1.     Tidak menyinggung hati
Orang-orang Indonesia sangat berhati-hati dalam berbicara dan sering berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapatnya, terutama apabila berisi kritikan. Dengan basa-basi diharapkan tidak ada sakit hati dalam percakapan. Dengan basa-basi saja sering ada yang sakit hati, apalagi tanpa basa-basi? Langsung dihajar bisa-bisa. Hahaha
2.     Memikat hati
Memang, mungkin basa-basi terkesan ‘menjilat’ karena sok sopan. Tapi itulah yang terjadi di budaya Indonesia. Sebelum menyampaikan apa ‘maunya’, berbasa-basilah terlebih dahulu sehingga menciptakan image kita yang ramah dan baik. Dengan basa-basi, obrolan pasti akan mengalir dan besar kemungkinan lawan bicara sudah tertarik atau bahkan ‘jatuh hati’. Tentu saja apa yang menjadi tujuan kita nanti akan lebih mudah tercapai.


3.     Mencairkan suasana
Biasanya orang Indonesia menawarkan camilan kpada tamunya sekedar untuk mencairkan suasana dan agar obrolan bisa lebih ‘ngeh’ (paham?) hahaha. Tuan rumah pasti akan berkata “maaf ya, cuma ada ini. Seadanya saja, monggo dimakan” sementara tamunya pasti akan menjawab “tidak usah repot-repot”
4.     Membina hubungan baik
Dalam berkomunikasi dan menjalin relasi, diperlukan sadikit basa-basi di awal pertemuan mereka. Ketika dianggap sudah akrab dan waktunya sudah tepat, bolehlah mengutarakan maksud yang sebenarnya. Setelah itu, selalu bertanya kabar dan keadaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk terus menjaga hubungan baik antarsesama.

Basa-basi sudah basi? Sebaiknya pikir ulang. So, masih mau bilang budaya basa-basi itu tidak penting dan termasuk budaya negatif? Ya, mungkin sebagian orang yang berpikir menggunakan logika akan menganggap ini merupakan hal remeh. Tapi tidak dengan saya, yang selalu mempertimbangkan empati dan perasaan dalam berbicara! Tapi dengan perbedaan opini ini, semuanya berpulang kembali pada diri masing-masinng, karena kebenaran yang hakiki bukan dari saya maupnun kalian, tapi dari Tuhan Yang Maha Esa

-DH-

04 Juli 2016

Aku Tau Tuhan Lebih Tau



Intinya begini. Tidak semua hal yang kita inginkan di dunia ini, dapat kita miliki. Terkadang, ada saat dimana apa-apa yang kita harapkan, yang kita rencanakan, bahkan dengan sudah sangat matang, ternyata harus berjalan berkebalikan. Tentulah pada saat demikian, refleks manusia akan mengarahkan dirinya pada suatu kekecewaan. Apakah kecewa itu salah? Tentu saja tidak. Kecewa merupakan reaksi alami yang timbul akibat kenyataan, tak sesuai harapan. Perasaan tersebut sangat manusiawi. Namun kecewa jadi tidak baik ketika ia justru membuat kita terpuruk terlampau dalam, hingga menghilangkan kesadaran, bahwa Allah selalu tetapkan tujuan, dalam setiap kejadian. Contoh, ilustrasinya itu seperti ini
M : Tuhan. Bolehkah aku bertanya padaMu?
T :  Tentu, hambaku. Silahkan
M : Tapi janji ya. Engkau takkan marah.
T : Iya aku janji.
M : Kenapa Kau ijinkan banyak hal buruk terjadi padaku hari ini?
T : Apa maksudmu?
M : Aku bangun terlambat. Mobilku mogok dan butuh waktu lama untuk menyala. Roti yang ku pesan dibuat tidak seperti perasaanku. Hingga malas memakannya. Dijalan pulang, HPku tiba tiba mati saat aku berbicara bisnis besar. Dan akhirnya saat ku sampai rumah, aku hanya ingin sedikit bersantai dengan mesin pijat refleksi yang baru kubeli. Tapi mati! Kenapa tak ada yang lancar hari ini?
T : Biar Kuperjelas hambaKu. Ada malaikat kematian pagi tadi. Dan Aku mengirimkan malaikatKu untuk berperang melawannya agar tidak ada hal buruk terjadi padamu. Kubiarkan kau teridur saat itu. Aku tak biarkan mobilmu menyala tepat waktu karna ada pengemudi mabuk lewat didepan jalan dan akan menabrakmu. Pembuat burgermu sedang sakit. Aku tak ingin kau tertular. Oleh karenanya Kubuatnya salah bekerja. HPmu Kubuat mati karena mereka penipu. Lagipula akan mengacaukan konsentrasimu dalam mengemudi bila ada yang menghubungimu kala HP menyala. Soal mesin pijat refleksi. KU tahu kau belum sempat beli voucher listrik, bila mesin itu nyala maka ambil banyak listrikmu. Ku yakin kamu tak ingin berada dalam kegelapan.
M : (menangis tersedu) Maafkan aku Tuhan
T : Tak apa. Tak perlu minta maaf. Belajarlah tuk percaya padaKu. RencanaKu padamu lebih baik dari rencanamu sendiri.

Masih ragukah? Oke, kali ini Dianti sedikit bercerita ya. Ini murni dari pengalaman aku sendiri.

Dari kecil, aku tidak lepas dari yang namanya provokasi orang tua. Maksudnya, apa yang aku inginkan pasti tidak disetujui sama orang tua. Dan kalian tau apa akibatnya, otomatis aku pun harus menuruti perintah orang tuaku. Ya, mau gak mau dan sangat terpaksa. Jadi dimulai waktu aku SD. Aku bersekolah di SDN Jember Lor 1. Tapi aku lebih pengen sekolah di SD Jember Lor 3, karena alasan sekolahnya bagus dan sering menjuarai lomba menyanyi dan menggambar (kebetulan aku waktu umur 6 tahun sering mengikuti perlombaan itu). Its oke, namanya anak SD kalo masalah pendidikan tidak berpikir yang terlalu jauh kan, oke aku turuti saja. Waktu aku kelas 3, aku berniat ingin pindah ke SD Jember Lor 3. Dengan alasan, sekolah itu resmi menjadi sekolah RSBI Se-Jatim. Aku memaksa. Aku berontak. Tapi orang tuaku tidak setuju. Akhirnya, ku urungkan niatku untuk pindah sekolah. Sedih memang. Tapi, lama kelamaan, aku merasakan keberuntungan selalu datang kepadaku. Aku mendapat ranking 10 besar berturut-turut. Meskipun aku tidak pernah menduduki ranking 3 besar, tapi 10 besar sudah sangat bagus kalo buat anak SD. Terus, aku juga sering mengikuti lomba paduan suara, nasyid, vocal group, baca puisi, menggambar, dan olimpiade sains dan ips se-jember. Alhamdulillah, aku sering menduduki sebagai peserta yang mendapat juara. Sekarang putar balik, kalau saja aku bersekolah di SD jember Lor 3, mungkin aku tidak akan mendapat trofi perlombaan sebanyak ini. So, aku percaya. Rencana Tuhan jauh lebih indah.


Next, setelah lulus SD, semua temen-temen aku punya persiapan buat masuk ke SMP yang mereka inginkan. Tentu aku juga tak ingin kalah dong dari mereka. Aku berniat sekolah di SMP 2 Jember.Ya, itu sekolah terfavorit yang terkenal cerdas diatas rata-rata dan sering memborong piala setiap ada perlombaan apapun. Aku ingin sekali menjadi siswa resmi disitu. Tapi, ayahku tak lagi mengizinkanku sekolah disitu. Entah apa alasannya, mungkin karena saat itu ayahku menjabat sebagai guru matematika di SMP 3 Jember. Maka dari itu, aku lagi-lagi mau gak mau harus menuruti keinginan beliau. Yah, terpaksa sih. Tapi, lagi-lagi keberuntunganku kembali berpihak padaku. Aku berturut-turut mendapat peringkat kelas 7 besar (ini dalam artian aku tidak pernah mendapat peringkat 7 kebawah) dan meskipun jarang-jarang banget aku dapet peringkat 5 besar. Itupun mungkin 2x dalam 6 semester. Tapi itu suatu rezeki banget buat aku, aku sangat mensyukurinya. Aku juga pernah mengikuti olimpiade biologi di Smasa Science Camp, meskipun bukan aku juaranya. But, its okay. Dan, aku juga sering mengikuti lomba paduan suara yang pada akhirnya sekolah kamilah juaranya. Alhamdulillah, aku sangat mensyukurinya. Sekarang putar balik, kalau saja aku bersekolah di SMP 2 JEmber, mungkin aku tidak akan mendapat peringkat kelas se-bagus ini. So, aku percaya. Rencana Tuhan jauh lebih indah.

Next, setelah lulus SMP. Aku berencana melanjutkan masa SMAku di SMA 1 Jember dengan modal sertifikat-sertifikat paduan suaraku selama aku di SMP 3. Tapi, lagi, lagi, dan lagi. Ayahku tidak setuju aku sekolah disitu. Alasannya sih, katanya nilai aku gak nutut (gak cukup) kalo mau masuk situ. Yah, waktu itu aku nangis. Pengen banget sekolah di tempat yang aku pengen. Masak sih, dari dulu aku selalu diprovokasi seperti ini? Meskipun dengan modal sertifikat paduan suara saja, aku yakin inshaallah aku akan disambut baik (diterima) disana. Waktu itu aku bimbang banget. Solusinya cuman 1. Aku harus konsultasi ke BK di SMPku. Guru BK ku pun menyarankan aku sekolah di SMA 2 Jember. Aku sih iya-iyain aja soalnya, aku harus sekolah dimana lagi? SMA 1 sudah sangat jelas tidak mungkin aku tempati. Dengan berat hati, aku bilang ke ayah kalau aku mau daftar di SMA 2 Jember. Ayahku setuju saja, asal jangan di SMA 1. Intinya sih begitu. Fine, aku bersekolah di SMAN 2 Jember. Its okay. Boleh juga. Dan, disinilah perjuanganku dimulai *eisih. SMA sudah pasti ada penjurusan, Nah, awalnya nih aku berharap kalau aku bisa masuk IPA, bukan berarti aku gak mau masuk IPS. Disini aku netral. Mau IPA, mau IPS sih terserah. Karena aku gak tau waktu itu minatku apa selain jurusan Bahasa (kebetulan disekolahku tidak ada jurusan Bahasa). IPS boleh aja, cuman karena ayahku lebih pengen aku masuk IPA, aku pun berharap begitu. Kenyataannya…. Sewaktu hari pertama masuk sekolah, aku kaget setengah mati. Karena apa? Aku ketimpa di jurusan IPS. Ha? Serius? Tidak seserius itu sih. Aku biasa aja, tidak terlau tertekan. Yang aku pikirkan waktu itu cuman satu, ayahku. Aku waktu itu mikir, ayahku pasti kecewa mendengar berita ini, secara ayahku juga guru matematika. Entah apa respon ayahku setelah mendengar berita ini. Sampai dirumah, aku udah ngeduga banget kalo ayahku bakalan tanya tentang kelas baruku. Ya aku jawab agak kepaksa gitu kalo aku masuk IPS 1. Dan ternyata, ayahku biasa-biasa aja. Justru malah beliau yang nanya ke aku mina tapa enggak di IPS. Yaudah aku jawab kalo minat. Lah, ternyata ayahku memang ngedaftarin aku di IPS. Sontak aku langsung kaget bercampur lega, karena untungnya aja ayahku gak kecewa sama aku. Hehehehe.    Jadi itu sewaktu registrasi/daftar ulang di SMA 2, kan dikasih formulir tuh, suruh diisi tentang data diri, dll. Nah, kebetulan formulirnya ayahku yang ngisi, sedangkan aku waktu itu ikut tes kesehatan. Yaudah, pantas aja aku gak tau kalo aku sebenernya didaftarin di IPS, ayahku juga gak bilang-bilang ke aku, entah kenapa alasannya. Mungkin biar surprise kali yak wkwkwk. Aku tanya alasan ayahku daftarin aku di IPS, beliau menjawab kalo aku bisa berkembang pesat di jurusan itu. Yah, akunya amin saja. Dan ternyata, doa ayahku dan amin-ku itu beneran didengar oleh Tuhan. Aku mendapat peringkat 3 besar berturut-turut setiap semester (ya meskipun ada 1 semester yang mendapat ranking 4). Siapa yang gak bangga cobak? Ya pasti bangga. Mendapat sertifikat+uang tunai sebagai bonus. Alhamdulillah. Sekarang putar balik, kalau saja aku bersekolah di SMA 1 JEmber, dan aku masuk jurusan IPA, mungkin aku tidak akan berkembang pesat dan tidak akan mendapat sertifikat sebanyak itu. So, aku percaya. Rencana Tuhan jauh lebih indah.


Next, setelah SMA, ga mungkin dong aku langsung kerja, wkwkw. Kuliah itu pasti. Aku pengen kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Karena apa? Karena fakultas impianku ada disana semua. Fakultas Psikologi, dan Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi, yaa seperti biasa, ayahku melarangku. Lah wong sekolah yang masih satu kota aja dilarang, gimana kuliah yang sudah beda kota? Hm, sedih banget. Padahal aku pengen jadi psikolog, kalau gak bagian perfilman dan pertelevisian. Tapi aku mencoba berpikir lebih bijak lagi, semakin aku tumbuh dewasa, semakin tua juga ayah ibuku. Kalau bukan anaknya sendiri yang menjaga, lalu siapa lagi? Dan alhamdulillah aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Jember sebagai mahasiswa yang lolos pada jalur undangan/ SNMPTN. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan, karena masih banyak anak yang tidak seberuntung aku disini. Bismillah. Aku yakin. Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik.


Nah mengapa harus kecewa, bukankah Allah sudah mempersiapkan rencana lain yang lebih indah. Betulkah Tuhan sudah mempersiapkan rencana yang lebih indah? Mengapa masih bertanya juga, coba perhatikan kita bisa hidup hingga detik ini… memangnya itu rencanamu. pernahkah kita merencanakan hidup sampai kapan atau mati pada tahun berapa? Oh… jika kau pandai mensyukuri tentunya kau akan tahu, inilah rencana Tuhan yang telah dirancang berpuluh ribu tahun sebelum kau terlahir. Bayangkan jika kau direncanakan bertahan hidup hanya hingga detik ini, apakah semua rencanamu yang sudah dirancang sedemikian hebatnya masih berguna untukmu..? Indah bukan rencana Tuhan itu, untuk itu, jangan merasa kecewa ketika hidup tak sesuai rencana, kegagalan itu akan menggiringmu ke arah yang lebih baik di mata Tuhan… percayalah dan yakinlah…
 Kalau begitu mengapa kita harus membuat rencana jika memang rencana Allah lebih indah dan memang sudah dipersiapkan untuk kita. Oh..bukan begitu. ” Hidup memang harus punya rencana, sebab jika hidup tidak punya rencana yang baik, kita tidak akan pernah tahu bahwa Allah swt akan memberikan rencana dan hasil yang terbaik dibanding dengan rencana kita yang baik itu ” Paham kan?
Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja kita mengalami suatu kegagalan atau pencapaian target yang tak sesuai dalam hidup. sehingga kita merasakan hal yang kurang mengenakkan dan kemudian memandangnya menjadi sesuatu hal yang buruk. Maka keburukan akan terjadi jika kita memandangnya dari satu sisi saja. Coba bila kita berani memandang ke sisi yang lain, maka disitu akan ditemukan pemandangan yang jauh berbeda.
Ketika sebuah proses tidak sesuai dengan rencana dan kegagalan terjadi tak usahlah menyurutkan semangat kita. Tuhan Maha Tau ketika kita kecewa dan sedih tapi semua itu akan tergantikan dengan kebahagiaan tinggallah waktu diiringi usaha yang akan menentukan proses selanjutnya. Cobalah perhatikan dibalik semua kejadian akan ada hikmah yang membuat kita semakin kuat dan semakin lebih baik. Untuk itu ikhlaskanlah semua yang Tuhan telah gariskan untuk kita, Tuhan tak akan mungkin membiarkan hambaNya dalam kesulitan tentunya akan diberikan kemudahan. Sikapi semua dengan rasa syukur dan sabar, juga hadapi semua kegagalan dengan hati yang tulus dan penuh semangat..Terangkan pikiran, buang rasa kecewa jauh-jauh dan yakinkan dalam hati bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik.
Setelah aku cerita panjang-panjang, kesimpulannya cuman beberapa kalimat saja.
Mengapa Tuhan tidak mengizinkan aku melanjutkan pendidikan di tempat yang aku inginkan? Karena Tuhan mengiginkan aku berkembang lebih baik demi meningkatkan kualitas diri di tempat lain. Jangan paksakan genggamanmu. Menyalahkan keadaan dan takdir tidak akan merubah segalanya. Ketika Tuhan menjawab “TIDAK” atas doamu, berterima kasihlah karena itu cara Tuhan untuk melindungimu dari sesuatu yang tak pantas kamu dapatkan-DH

11 Juni 2016

Potret Sistem Pendidikan Indonesia

Halo readers. Dianti tetap disini, ngeblognya rutin banget, kebetulan kerjaan cuma nganggur doang. Maklum, baru lulus SMA sih ya. Dan beruntungnya, aku udah dapet PTN/perkuliahan. Alhamdulillah. Kenapa cepet banget? Ya karena aku lolos di tahap SNMPTN. Aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Jember, kotaku sendiri. Aslinya pengen banget sih kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Karena ada fakultas yang sesuai minat dan passion aku dari dulu. Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Komunikasi. Tapi apa daya, orang tuaku gak ngebolehin aku kuliah diluar kota. Sedih. Tapi aku mencoba berpikir lebih bijak lagi, semakin tua umurku, semakin bertambah tua pula umur orangtuaku,  lalu siapa yang menjaga mereka kalo bukan anaknya sendiri? Sedangkan mereka sudah mulai menua. Paham kan? Yaudah, aku urungi niatku yang ingin merantau ke kota orang. Lagipula, diterima lewat jalur undangan/SNMPTN aja udah bersyukur banget, alhamdulillah. Kekuatan doa.

Langsung ke topik. Buat kalian yang membaca ini, kalian inget gak sih cita-cita kalian sewaktu kecil apa? Coba bayangkan, pasti cita-cita kalian konyol banget. Astronot?  Maklum, ukuran otak anak SD sih ya wkwk. Terus, sewaktu kalian remaja, kalian punya cita-cita yang baru. Cita-cita kita selalu berganti dan selalu tidak tentu. Aku juga kok. Dulu waktu TK, aku lebih suka bilang "aku pengen jadi penyanyi sama seniman (pelukis maksudnya). SD, aku sangat enteng menjawab cita-citaku "aku ingin jadi arsitek. Biar bisa bangun gedung banyak buat opera (pertunjukan seni)". SMP aku mulai memiliki banyak impian yg aku semogakan, "aku ingin jadi psikolog, musisi, desainer, penulis, motivator. Aku ingin itu semua. Aku cinta pada profesi itu". SMA? See? Aku tetap berpegang teguh pada cita-citaku sewaktu SMP, karena itu memang hobiku. Tapi semakin jauh semakin asing. Apa yg aku inginkan memang tidak berjalan seperti kenyataannya. Sekarang coba bayangkan, ketika kamu sudah bermimpi terlalu tinggi, lalu ada hal yg menghambat mimpimu sendiri. Semua buyar entah kemana. Dan otomatis kamu akan berpikir kembali akan cita-cita (baru) mu itu. Kamu terpaksa berpikir kembali, padahal kamu waktu itu sudah memiliki harapan besar pada cita-cita lamamu. Konflik batin kan? Faktanya, aku jujur pingin banget jadi psikolog, tapi apadaya aku tidak bisa menggapainya. Menjadi mahasiswa psikolog saja tidak mampu. Sekarang aku menjadi mahasiswa hukum. (tapi sekali lagi, aku tetap bersyukur kok. Thanks God) See? Aku yakin banyak banget dari kalian yang kayak aku. Contoh kasus lain seperti kuliahnya apa, kerjanya apa.  Sebagai contoh, lulusan Sarjana Ekonomi, kerjanya di Dinas Pendidikan. Lulusan pertanian, kerjanya sebagai guru. Inilah potret pendidikan di Indonesia. 


Belajar di SMA Indonesia, setahun libur cuma 7 minggu gak lebih. Masuk maksimal jam 07.00. Bahkan ada sekolah di kota lainnya yang bel masuknya jam 06.30 keluar jam 15.00. Mata pelajaran kurang lebih ada 16. Ujian terus menerus, ditambah PR, tugas kelompok, bahkan tugas individu yang seringkali bikin kita rasanya mau mati. Nah, pas lulus, sujud syukur banget kalo bisa tembus PTN. Gak kebayang masuk universitas favorit dunia seperti Harvard, Oxfort, Cambridge, Free Barlin, atau University of Tokyo. Jangankan itu, masuk NUS Singapore, Nanyang, atau University Malaysia aja pasti putus asa duluan deh. Itupun ngedapetin PTN di Indonesia aja susahnya minta ampun, mesti les sana sini dengan biaya jutaan, belajar mati-matian pergi pagi pulang malam kayak Bang Toyib (mending Bang Toyib pulang-pulang bawa duit). Sabtu pun belajar, minggu ngerjain PR. Sampai gak sadar mereka itu manusia atau robot.  


Sewaktu kerja, interview sana-sini gak dapet-dapet pekerjaan bahkan untuk beberapa lulusan UI, ITB, UGM, dan PTN lainnya. Sedangkan kalau orang bule yang ngelamar langsung direkrut gitu aja. Mereka dengan mudahnya nempatin posisi teratas, seperi CEO, EO, Kadiv, dan lain-lain. Sementara kita, jadi manager atau supervisor saja udah syukur-syukur deh. Walau ada beberapa yang bakalan jadi petinggi juga.
Kalian pasti sadar kan, yang punya perusahaan-perusahaan multinasional itu bukan orang Indonesia. Orang Indonesia paling Cuma jadi Direktur Regional. Gak jarang juga yang menduduki jabatan itu malah orang asing. Atau lebih untung lagi yang mendirikan perusahaannya, tapi yang seperti ini paling juga sukses di Indonesia aja.
Pasti pada bingung, kenapa WNA bisa sesukses itu? Kok bisa jadi adidaya di negara orang? Padahal anak-anak Indonesia sering bolak-balik bawa medali olimpiade sains internasional, olimpiade ekonomi se-ASEAN. Padahal? Nih, sekarang aku jabarkan sistem pendidikan di Amerika. Dan ternyata….
·         SMA di Amerika, banyak liburnya. Setahun kurang lebih 5 bulan
·         SMA di Amerika, masuk jam 08.30 dan pulang 15.30
·         SMA di Amerika, mata pelajarannya hanya ada 7
·         SMA di Amerika, ujian akhir setahun cuma sekali. Dan gak pernah ada ulangan tengah semester.
Lalu pertanyaannya, kok bisa sih mereka semua jadi pemimpin-pemimpin dunia? Padahal di Indonesia, belajar sudah paling lama, mata pelajaran sudah paling lengkap, PR dan tugas sudah paling ribet, ujian sudah paling sering, les pun sudah paling rajin.
Jawabannya ada pada sistem pendidikan dan diri kita sendiri.


Dulu, waktu TK dan SD kita semua lancar menjawab saat ditanya apa cita-cita kita. Tapi sekarang? Pasti kita banyak menjumpai remaja-remaja yang justru bingung akan cita-cita mereka bahkan tidak jarang bagi mereka yang pintar juga bingung pada cita-cita mereka. Lalu apa sebabnya? Bisa jadi karena sistem pendidikan kita yang salah. Sistem pendidikan kita menuntut kita untuk mempelajari semuanya namun kita tidak mendalami satu pun. Inilah yang membuat mereka yang mengejar nilai juga bingung akan cita-citanya, karena sudah dibentuk sejak awal tidak mempunyai tujuan, sudah dibentuk tidak mendalami apa yang mereka cita-citakan. 


Apa yang mereka dapatkan dari sekolah yaitu sukses hanya dengan sebuah kertas ujian and just reading your book to be success. Padahal kalau sudah kerja, biar sukses harus melakukan hal-hal kompleks seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan membentuk ide, dan lain-lain.
Apa yang mereka dapatkan dari sekolah adalah materi yang akan mereka lupakan karena tidak terpakai saat mereka bekerja. Apakah seorang atlet sepakbola yang sukses perlu mempelajari struktur sel bakteri untuk menjadi sukses? Apakah seorang dokter ahli bedah yang sukses perlu belajar menghitung percepatan sentripetal agar menjadi sukses? Justru sebaliknya, mereka yang ingin sukses sebagai arsitek seharusnya lebih mendalami ilmu fisika, geometri dan bangunan, bukannya malah mendalami sebab Revolusi Perancis, dan lain-lain. Lain lagi, calon pakar politik kok malah dikasih pensil, rautan, penggaris, atau istilahnya kita mau ngapain kok gak dapet apa yang kita butuhkan, malah dapet hal gak sebenarnya tidak dibutuhi. Ya pasti dibuang. Ibaratnya itu seperti ini. Banyak yang melihat apel jatuh hanya sebagai apel jatuh, tapi hanya Newton yang melihat gravitasi disana. Banyak yang mengira petir hanya petir, tapi B. Franklin melihat listrik disana. Sebagian besar hanya menyangka air hanya minuman, tapi ia yang cerdas berhasil mengubahnya menjadi bahan bakar. Memang diperlukan keberanian dan kecerdasan lebih untuk sampai di titik ini. Namun sayangnya sistem pendidikan kita tidak mengasah otak anak untuk mampu berpikir seperti ini, karena sistem pendidikan kita adalah sistem yang membuat anak sebanyak-banyaknya menghapal pelajaran untuk kelak di muntahkan pada saat tes dan ujian akhir. Dan tragisnya setelah itu semuanya dilupakan begitu saja. Kebanyakan guru pasti akan marah jika melihat anak-anak hanya bermain dibawah pohon apel atau rambutan, katanya ia tidak belajar. Padahal justru itulah arti belajar yang sesungguhnya menemukan sisi lain yang tidak berhasil di lihat oleh anak-anak kebanyakan.

Sesuai artikel yang aku baca, yang membedakan SMA di Amerika dan di Indonesia yaitu sejak SMP, siswa-siswi di Amerika disuruh menentukan keputusannya sendiri. Dengan sistem moving class, istilahnya kita boleh masuk memilih kelas Kimia atau Biologi pada jam ini, atau ingin masuk kelas Geografi atau Matematika pada jam selanjutnya. Jadi disesuaikan dengan minat dan bakat kita mau itu kita hanya masuk ke kelas Sejarah 1x pertemuan seminggu 3x atau lebih itu tergantung keputusan kita. Jadi apabila ingin jadi dokter yang sukses kita bisa ambil kelas Biologi lebih sering dari kelas mata pelajaran yang lainnya. Sehingga, sejak SMP orang Amerika sudah terfokus pada bidang yang mereka inignkan untuk kerja di dalamnya. Dan saat kerja mereka sudah punya persiapan sejak kecil. Hebatnya lagi, orang tua mereka tentu saja sangat mendukung akan minat anaknya. 

So, ayo kita benahi sistem pendidikan kita dan mulailah fokus terhadap apa yang dicita-citakan mulai sekarang kalau kita semua mau Indonesia merdeka secara ekonomi!

Sumber : IDNTimes

-DH-